Home / Karakter My Hero Academia yang Disalahpahami Review Kiatoto
Karakter My Hero Academia yang Disalahpahami Review Kiatoto

Bakugo Katsuki Bukan Sekadar Tukang Marah
Sebagai salah satu karakter paling vokal di My Hero Academia, Bakugo Katsuki kerap jadi sasaran kebencian. Banyak penggemar menilai sikap kasarnya sebagai tanda kepribadian buruk. Namun, jika dilihat lebih dalam, Bakugo adalah representasi tekanan ekspektasi dan perfeksionisme. Sejak awal, ia dipuji sebagai anak jenius dengan Quirk eksplosif, yang membuatnya terjebak pada standar tinggi buatan lingkungan sekitar.
Perkembangan Bakugo sangat nyata sepanjang cerita. Ia belajar menerima kelemahan, bekerja sama dengan orang lain, dan mengakui kesalahannya sesuatu yang jarang dilakukan karakter arogan pada umumnya. Emosinya yang meledak-ledak justru menjadi alat naratif untuk menunjukkan bahwa pahlawan tidak harus selalu tenang dan sempurna. Di balik amarahnya, Bakugo memiliki kode moral kuat dan keberanian yang konsisten saat situasi benar-benar genting.
Endeavor dan Dosa Masa Lalu yang Tak Terhapus
Endeavor mungkin adalah karakter paling kontroversial. Sebagai ayah yang kejam dan obsesif, ia pantas menerima kritik. Namun kebencian total sering mengabaikan inti dari arc penebusannya. Endeavor tidak pernah meminta simpati instan; ia justru menghadapi konsekuensi dari tindakannya sendiri.
Transformasi Endeavor sebagai pahlawan nomor satu menyoroti tema tanggung jawab dan perubahan. Ia sadar bahwa kekuatan saja tidak cukup, dan pengakuan publik tidak bisa menghapus luka keluarga. Pendekatan cerita ini matang dan realistis, menunjukkan bahwa penebusan adalah proses panjang, bukan penghapusan dosa. Karakter seperti Endeavor memberi kedalaman emosional pada seri dan memperkaya konflik internal yang jarang disentuh anime shonen lain.
Mineta Minoru Lebih dari Sekadar Komedi Murahan
Mineta Minoru sering dianggap karakter paling menyebalkan. Humor cabulnya memang tidak selalu berhasil, tetapi Mineta berfungsi sebagai relief komedi dalam dunia yang semakin gelap. Yang sering dilupakan adalah keberaniannya di medan tempur ia tetap maju meski sadar dirinya lemah secara fisik.
Mineta juga mewakili siswa biasa yang dikelilingi calon legenda. Rasa takut, ketertarikan berlebihan, dan keinginan diakui membuatnya terasa manusiawi. Dalam beberapa momen krusial, ia membuktikan bahwa kecerdikan dan strategi bisa mengalahkan kekuatan mentah. Menyederhanakan Mineta hanya sebagai karakter menjengkelkan berarti mengabaikan fungsi naratifnya.
Yuga Aoyama dan Beban Rahasia
Yuga Aoyama dikenal eksentrik dan narsis, membuat banyak penonton sulit menyukainya. Namun kepribadiannya yang berlebihan adalah mekanisme pertahanan diri. Aoyama hidup dengan rahasia besar tentang Quirk-nya dan asal-usul kekuatannya, yang menciptakan tekanan psikologis luar biasa.
Ketika kebenaran terungkap, perspektif terhadap Aoyama berubah drastis. Ia bukan pengkhianat tanpa hati, melainkan korban keadaan yang mencoba bertahan. Arc ini menekankan tema empati dan kompleksitas moral, sekaligus mengingatkan bahwa tidak semua senyuman berarti kebahagiaan. Bahkan detail kecil seperti gaya bicaranya menjadi petunjuk halus tentang kegelisahan batinnya Kiatoto yang jarang disadari penonton kasual.
Ochaco Uraraka dan Ambisi yang Disalahartikan
Sebagai karakter populer, Ochaco Uraraka tetap menerima kritik, terutama terkait motivasinya yang dianggap “terlalu materialistis”. Keinginannya untuk menghasilkan uang demi keluarga sering disalahpahami sebagai keserakahan. Padahal, motivasi ini justru membumi dan realistis.
Ochaco berkembang dari karakter ceria menjadi pahlawan dengan kesadaran emosional tinggi. Ia belajar menghadapi trauma, empati terhadap korban, dan mengambil keputusan sulit di medan perang. Perjalanannya menunjukkan bahwa ambisi finansial tidak bertentangan dengan idealisme heroik. Ia membuktikan bahwa kepahlawanan juga tentang menopang orang-orang tercinta, bukan sekadar simbolisme.
Shigaraki Tomura dan Tragedi yang Membentuk Monster
Sebagai antagonis utama, Shigaraki Tomura sering dibenci tanpa upaya memahami latar belakangnya. Namun kisah masa kecilnya adalah tragedi berlapis pengabaian, kekerasan, dan manipulasi. Shigaraki bukan lahir jahat; ia dibentuk oleh sistem yang gagal melindungi yang paling rentan.
Penulisan karakter Shigaraki menyoroti kegagalan masyarakat dalam merawat individu bermasalah. Ia menjadi cermin gelap dunia pahlawan, mempertanyakan apakah simbol harapan benar-benar menjangkau semua orang. Dengan pendekatan ini, kebencian semata terasa dangkal, karena karakter ini dirancang untuk memicu refleksi, bukan sekadar menjadi target kebencian.
Artikel ini membuktikan bahwa banyak karakter di My Hero Academia dinilai secara sepihak. Dengan melihat konteks, perkembangan, dan tema yang diusung, kebencian sering kali berubah menjadi pemahaman yang lebih dalam dan itulah kekuatan cerita yang ditulis dengan niat matang.